• BERSAMA DALAM KEBERSAMAAN

    Pelaksanaan Pembinaan dalam rangka penyegaran dan peningkatan pelayanan kepada siswa demi terciptanya sekolah yang cerah dan mencerahkan, membahagiakan

  • BERSAMA SISWA

    Dalam rangka akhir kegiatan, ditunjukan untuk menikmati kebersamaan

  • BERKAH BERSAMA AL-QUR'AN

    Keberkahan ketika kita bisa membuat orang tua kita meneteskan air mata karena kesolehan putra-putrinya

  • BERBAKTI TIDAK HANYA PEDULI

    Belajar adalah aktivitas untuk menjadi diri yang dinanti dan selalu bermanfaat baik bagi diri dan masyarakat sekitar

  • WISUDA TAHFIDZ

    Kegiatan Wisuda Pecinta Al-Qur'an (Palaq) yang dilaksanakan oleh Hikmat SMA Muhammadiyah Wanaraja, oleh Bapak H Dadang Saepulloh, S.Ag (alm)

KEGIATAN PENUTUP PESANTREN EKOLOGI 2026 SMA MUHAMMADIYAH WANARAJA

Penutupan kegiatan Pesantren Ekologi Ramadhan 1447 H di SMA Muhammadiyah Wanaraja dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 Maret 2026, bertempat di Komplek SMA Muhammadiyah Wanaraja. Kegiatan ini merupakan rangkaian akhir dari program pembinaan karakter religius, kepedulian sosial, dan kesadaran lingkungan yang diikuti oleh seluruh warga sekolah selama bulan Ramadhan.

Acara penutupan berlangsung dengan meriah dan penuh kebersamaan, dihadiri oleh Kepala SMA Muhammadiyah Wanaraja, Bapak Irwan Firdaus, S.Pd.I., M.Pd., beserta seluruh dewan guru dan siswa-siswi.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Bazar Rantang Kanyaah, yang menghadirkan berbagai makanan dan hidangan yang disiapkan oleh para siswa sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan dalam berbagi di bulan suci Ramadhan. Selanjutnya dilaksanakan Bazar Ekstrakurikuler, yang menampilkan berbagai produk kreatif hasil karya siswa dari berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Selain itu, turut diselenggarakan Bazar Thrifting Guru, yaitu kegiatan penjualan pakaian layak pakai yang diinisiasi oleh para guru sebagai bentuk dukungan terhadap gaya hidup hemat, ramah lingkungan, serta kegiatan sosial di lingkungan sekolah.

Kemeriahan acara juga diisi dengan Sendung Ramadhan, yaitu penampilan seni dan kreativitas siswa yang menampilkan berbagai pertunjukan bernuansa islami dan edukatif. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka sekaligus mempererat ukhuwah antarwarga sekolah.


Memasuki waktu berbuka puasa, seluruh peserta kegiatan melaksanakan Iftar (buka puasa) bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Sholat Tarawih berjamaah, yang semakin menambah kekhusyukan dan nilai spiritual dalam rangkaian kegiatan Pesantren Ramadhan.

Sebagai bagian dari agenda akademik, pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan pembagian Raport Ulangan Tengah Semester (UTS) Genap kepada para siswa sebagai bentuk evaluasi hasil belajar selama setengah semester berjalan.


Melalui kegiatan penutupan Pesantren Ekologi Ramadhan ini, diharapkan nilai-nilai keagamaan, kepedulian sosial, kreativitas, serta kesadaran terhadap lingkungan dapat terus tertanam dalam diri para siswa. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antara siswa, guru, dan seluruh warga sekolah di lingkungan SMA Muhammadiyah Wanaraja.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan semangat Ramadhan tetap terjaga dan menjadi inspirasi bagi seluruh peserta didik untuk terus meningkatkan akhlak, prestasi, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.













Share:

ISTIGFAR SEBAGAI PENUTUP KETAATAN

ISTIGFAR PENUTUP KETAATAN
KAJIAN ITIKAF RAMADHAN 1447 H
MASJID AL-KAUTSAR PAPANDAK

Istigfar adalah adalah tindakan meminta maaf atau memohon keampunan kepada Allah yang dilakukan, dalam benak kita terkadang sudah tertanam pemahaman bahwa istigfar hanya dilakukan ketika kita telah berbuat salah atau dosa. Meminta ampun itu apabila telah berbuat kesalahan dan itu adalah sepatutnya untuk meminta maaf, karena kesalahan dan itu adalah wajar.

Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma menyatakan,

وإنه لا كبيرة مع استغفار ولا صغيرة مع إصرار

“Sesungguhnya tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus-menerus.”

Namun selain itu ternyata, istigfar oleh Nabi diajarkan apabila kita telah berbuat baik atau berbuat ketaatan, karena ketaatan yang kita lakukan belum tentu sesuai dengan ketentuan yang Allah perintahkan dan Rasul contohkan.

قَالَ شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ:

فَإِنَّ الْعَبْدَ لَوِ اجْتَهَدَ مَهْمَا اجْتَهَدَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُومَ لِلَّهِ بِالْحَقِّ الَّذِي أَوْجَبَهُ عَلَيْهِ، فَمَا يَسَعُهُ إِلَّا الِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ عَقِيبَ كُلِّ طَاعَةٍ.

مَجْمُوعُ الْفَتَاوَى (١٠/٨٥)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله:

“Sesungguhnya seorang hamba, walaupun ia telah bersungguh-sungguh sekeras apa pun, tidak akan mampu menunaikan hak Allah secara sempurna sebagaimana yang Allah wajibkan kepadanya. Karena itu, tidak ada yang pantas baginya selain beristighfar dan bertaubat setelah setiap ketaatan.”

Dalam hal ini istighfar adalah penutup setiap amalan shalih. Shalat lima waktu, haji, shalat malam, dan pertemuan dalam majelis biasa ditutup dengan amalan dzikir istighfar ini. Jika istighfar berfungsi sebagai dzikir, maka jadi penambah pahala. Sedangkan jika ada sesuatu yang sia-sia dalam ibadah, maka fungsi istighfar sebagai kafaroh (penambal).

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah membuat tulisan yang ingin dikirimkan ke berbagai ke negeri. Isi surat tersebut adalah memerintahkan mereka untuk menutup bulan Ramadhan dengan istighfar dan sedekah yaitu zakat fitrah. Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia dan dari kata-kata haram. Sedangkan istighfar berfungsi sebagai penambal atas kekurangan yang dilakukan selama berpuasa yaitu ketika melakukan hal-hal yang sia-sia dan perkara yang haram. Oleh karena itu, sebagian ulama mengibaratkan zakat fitrah seperti sujud sahwi dalam shalat.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis dalam kitabnya tersebut, “Ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh ayah kalian Adam ‘alaihis salam,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Rabb  kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23).

 

Ucapkanlah seperti yang diucapkan Nuh ‘alaihis salam,

وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 47)

 

Ucapkanlah seperti yang diucapkan Ibrahim ‘alaihis salam,

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 82)

 

Ucapkanlah seperti yang diucapkan Musa ‘alaihis salam,

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (QS. Al- Qashash: 16)

 

Begitu pula ucapkanlah seperti yang diucapkan Dzun Nun (Yunus) ‘alaihis salam,

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87)

 

Puasa kita butuh pada istighfar, sedangkan amalan shalih sebagai penggenapnya. Bukankah puasa kita penuh cacat dikarenakan pelanggaran yang kita lakukan saat puasa?

 

Setelah shalat, beristighfarlah. Tujuannya untuk menambal cacat dalam shalat. Ini dilakukan sebagaimana orang yang berbuat dosa beristighfar. Inilah keadaan orang-orang yang bagus ibadahnya (muhsin). Sedangan para pelaku maksiat, bagaimana keadaan keseharian mereka? Sungguh merugi jika waktu untuk berbuat baik malah berbalik menjadi maksiat. Lalu waktu berbuat taat, malah jadi waktu sia-sia.

 

Al Hasan Al Bashri berkata, “Perbanyaklah istighfar karena kalian tidaklah tahu kapan waktu turunnya rahmat.”

Lukman pun pernah berkata pada anaknya, “Wahai anakku, basahilah lisanmu dengan bacaan istighfar (permohonan ampun pada Allah) karena Allah telah memilih beberapa waktu yang do’a orang yang meminta tidak tertolak saat itu”.

Oleh karena itu pemimpin seluruh manusia, imam seluruh orang-orang yang bertakwa, selalu beristighfâr di dalam seluruh keadaannya. Berikut ini contoh istigfar yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,

 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allâh, sesungguhnya aku beristighfâr dan bertaubat kepada Allâh lebih dari 70 kali dalam sehari.” [HR. Bukhâri, no. 6307]

1.       Istighfar Setelah Selesai Menunaikan Shalat Malam

Allâh Azza wa Jalla berfirman memberitakan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa :

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴿١٦﴾الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa : “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allâh), dan yang memohon ampun di waktu sahur [sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati shubuh. [Ali ‘Imrân/3: 16-17]

2.    Istighfar Setelah Menunaikan Shalat

Shalat merupakan amalan yang paling besar setelah syahâdatain (dua syahadat). Dalam pelaksanaan ibadah shalat harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, dan kewajiban-kewajibannya. Lebih sempurna lagi jika dipenuhi hal-hal yang disunahkan di dalam shalat. Namun siapakah yang yakin bahwa dirinya telah menunaikan semua itu dalam shalatnya ? Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan dengan membaca istighfâr tiga kali setelah salam dari shalat wajibnya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sebagai berikut :

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Dari Tsaubân Radhiyallahu anhu dia berkata: “Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai melaksanakan shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfâr (meminta ampunan) tiga kali.

3.    Istighfar Setelah Selesai Menunaikan Ibadah Haji

Bukan hanya di akhir shalat, ternyata istighfâr juga disyari’atkan di akhir menunaikan ibadah haji. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ﴿١٩٨﴾ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allâh di Masy’aril haram (di Muzdalifah), dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allâh sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (yaitu dari ‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allâh; sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2: 198-199]

4.    Istighfar Setelah Menunaikan Amanah Dakwah

Setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan risalah kepada manusia, berjihad membela agama Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar jihad, dan melaksanakan perintah Allâh dengan sempurna, yang tidak ada seorangpun menyamai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beristighfâr, sebagaimana firman-Nya :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴿١﴾وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا﴿٢﴾فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allâh dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk agama Allâh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

[an-Nashr/110: 1-3]

 

5.    Istighfar Setelah Selesai Menunaikan Majlis dan Smua Amalan

Semua keterangan di atas menunjukkan keagungan istighfâr. Bahkan selain itu, istighfâr ini dijadikan sebagai doa penutup majlis, juga sebagai doa di akhir semua amalan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ مَجْلِسًا أَوْ صَلَّى تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ عَنْ الْكَلِمَاتِ فَقَالَ إِنْ تَكَلَّمَ بِخَيْرٍ كَانَ طَابِعًا عَلَيْهِنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنْ تَكَلَّمَ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah duduk di suatu majelis atau ketika telah selesai shalat maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan beberapa kalimat. Lalu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kalimat-kalimat tersebut, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab; “Jika seseorang bicara baik maka itu sebagai stempel/tutup sampai hari kiamat dan jika dia bicara yang tidak baik maka itu sebagai kaffarat/penghapusnya. (Yaitu perkataan) :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

(Ya Allâh, Maha Suci Engkau dan segala pujian bagi-Mu. Aku mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu).” [HR. Nasâ’i, no. 1327; dishahihkan oleh al-Albâni]

💡 hikmah:

·         Manusia menjadi mahluk yang terkadang sholeh dan Salah, ketika berbuat salah sepantasnya dan seharusnya kita Berisitigfar sebagai wujud peneysalan dan meminta ampun kepada Allah atas kehilafan.

·         Namun Istigfar juga seyogyanya kita lakukan sebagai penutup amal shalih kita. Karena manusia selalu memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, dan ini sebagai wujud manusia memiliki kelemahan dalam setiap perbuatan. Termasuk amal shalih kita, mungkin secara dzohir terlihat indah, namun siapa tahu isi hati ketia berbuat itu, siapa tahu dibalik ibadah itu ada selain Allah. Atau mungkin juga ibadah kita tidak sesuai dengan ketentuan yang Rasul contohkan.

·         Karena itu para ulama menganjurkan istighfar setelah ibadah (misalnya setelah shalat, puasa, ibadah Haji, Majelis Ilmu dsb).

oleh : Yudi Patmadinata

 


Share:

BUKA BERSAMA GURU SMA MUHAMMADIYAH WANARAJA

Pada hari Sabtu, 14 Maret 2026, keluarga besar guru SMA Muhammadiyah Wanaraja melaksanakan kegiatan Buka Puasa Bersama yang bertempat di kediaman Bapak Supiyan, S.Pd, yang berlokasi di Komplek Karangpawitan, Garut. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh guru SMA Muhammadiyah Wanaraja sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan di bulan suci Ramadhan.

Acara diawali dengan ceramah singkat yang disampaikan oleh Ustadz Nandang Rahmat, S.Ag. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh peserta untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan selama bulan Ramadhan serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian informasi dan pemaparan program sekolah yang disampaikan oleh Kepala SMA Muhammadiyah Wanaraja, Bapak Irwan Firdaus, S.Pd.I., M.Pd. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan beberapa agenda dan rencana pengembangan sekolah serta mengajak seluruh guru untuk terus meningkatkan komitmen dan kerja sama dalam memajukan SMA Muhammadiyah Wanaraja.

Menjelang waktu berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Dudang Hamdani, S.Ag, sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan agar seluruh guru senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan kelancaran dalam menjalankan tugas serta pengabdian di dunia pendidikan.

Setelah doa bersama, seluruh peserta melaksanakan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan acara bertukar kado antar guru yang berlangsung dengan penuh keceriaan dan kebersamaan.

Kegiatan ini juga sekaligus menjadi momentum syukuran atas nikmat yang diterima oleh Bapak Cef Rofi Awaludin, S.Pd yang telah mendapatkan rezeki berupa sertifikasi guru. Para guru turut menyampaikan ucapan selamat dan doa agar keberkahan tersebut membawa manfaat serta menjadi motivasi bagi seluruh guru untuk terus meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

Melalui kegiatan buka puasa bersama ini diharapkan dapat semakin mempererat hubungan silaturahmi, meningkatkan kebersamaan, serta menumbuhkan semangat kekeluargaan di antara seluruh guru SMA Muhammadiyah Wanaraja.

Share:

ASESMEN SUMATIF AKHIR JENJANG SMATER SMA MUHAMMADIYAH WANARAJA

SMA Terbuka SMA Muhammadiyah Wanaraja telah melaksanakan kegiatan Asesmen Sumatif Akhir Jenjang (ASAJ) bagi peserta didik kelas XII pada tanggal 12 sampai dengan 15 Maret 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses evaluasi pembelajaran yang bertujuan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik selama menempuh pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Atas.

Pelaksanaan ASAJ berlangsung dengan tertib dan lancar sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik kelas XII SMA Terbuka SMA Muhammadiyah Wanaraja dengan pengawasan dari panitia dan pengawas yang telah ditunjuk. Sebelum pelaksanaan asesmen, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan berbagai persiapan, mulai dari penyusunan jadwal, penyiapan ruang ujian, hingga koordinasi dengan para guru pengampu mata pelajaran.

Selama pelaksanaan ASAJ, peserta didik mengerjakan soal asesmen sesuai dengan mata pelajaran yang diujikan pada setiap harinya. Panitia dan pengawas memastikan bahwa proses asesmen berlangsung secara jujur, tertib, dan sesuai dengan tata tertib yang telah ditetapkan. Peserta didik juga menunjukkan sikap disiplin dan kesungguhan dalam mengikuti setiap tahapan asesmen.

Melalui pelaksanaan Asesmen Sumatif Akhir Jenjang ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang objektif mengenai tingkat penguasaan kompetensi peserta didik sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam penentuan kelulusan. Selain itu, hasil asesmen ini juga menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran di masa yang akan datang.

Secara keseluruhan, kegiatan ASAJ SMA Terbuka SMA Muhammadiyah Wanaraja tahun 2025 dapat terlaksana dengan baik, tertib, dan lancar berkat kerja sama antara pihak sekolah, panitia, pengawas, guru, serta peserta didik.

Share:

PENUTUPAN PESANTREN EKOLOGI

PENUTUPAN PESANTREN EKOLOGI

ASESMEN SUMATIF AKHIR JENJANG

ASESMEN SUMATIF AKHIR JENJANG
Selamat datang di situs kami, The Progressive School.

Blogger templates

SEKOLAH BERBUDAYA & BERKEMAJUAN

SEKOLAH BERBUDAYA & BERKEMAJUAN

Popular Posts