ISTIGFAR PENUTUP KETAATAN
KAJIAN ITIKAF RAMADHAN 1447 H
MASJID AL-KAUTSAR PAPANDAK
Istigfar
adalah adalah tindakan meminta maaf
atau memohon keampunan kepada Allah yang dilakukan, dalam benak kita terkadang
sudah tertanam pemahaman bahwa istigfar hanya dilakukan ketika kita telah berbuat
salah atau dosa. Meminta ampun itu apabila telah berbuat kesalahan dan itu
adalah sepatutnya untuk meminta maaf, karena kesalahan dan itu adalah wajar.
Abdullah
bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma menyatakan,
وإنه لا كبيرة مع استغفار ولا
صغيرة مع إصرار
“Sesungguhnya
tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil
jika dilakukan secara terus-menerus.”
Namun
selain itu ternyata, istigfar oleh Nabi diajarkan apabila kita telah berbuat
baik atau berbuat ketaatan, karena ketaatan yang kita lakukan belum tentu
sesuai dengan ketentuan yang Allah perintahkan dan Rasul contohkan.
قَالَ
شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ:
فَإِنَّ
الْعَبْدَ لَوِ اجْتَهَدَ مَهْمَا اجْتَهَدَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُومَ لِلَّهِ
بِالْحَقِّ الَّذِي أَوْجَبَهُ عَلَيْهِ، فَمَا يَسَعُهُ إِلَّا الِاسْتِغْفَارُ
وَالتَّوْبَةُ عَقِيبَ كُلِّ طَاعَةٍ.
مَجْمُوعُ
الْفَتَاوَى (١٠/٨٥)
Berkata
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله:
“Sesungguhnya
seorang hamba, walaupun ia telah bersungguh-sungguh sekeras apa pun, tidak akan
mampu menunaikan hak Allah secara sempurna sebagaimana yang Allah wajibkan
kepadanya. Karena itu, tidak ada yang pantas baginya selain beristighfar dan
bertaubat setelah setiap ketaatan.”
Dalam hal ini istighfar adalah penutup setiap amalan
shalih. Shalat lima waktu, haji, shalat malam, dan pertemuan dalam majelis
biasa ditutup dengan amalan dzikir istighfar ini. Jika istighfar berfungsi
sebagai dzikir, maka jadi penambah pahala. Sedangkan jika ada sesuatu yang
sia-sia dalam ibadah, maka fungsi istighfar sebagai kafaroh (penambal).
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah membuat tulisan yang ingin
dikirimkan ke berbagai ke negeri. Isi surat tersebut adalah memerintahkan
mereka untuk menutup bulan Ramadhan dengan istighfar dan sedekah yaitu zakat
fitrah. Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan orang yang berpuasa dari
hal-hal yang sia-sia dan dari kata-kata haram. Sedangkan istighfar berfungsi
sebagai penambal atas kekurangan yang dilakukan selama berpuasa yaitu ketika
melakukan hal-hal yang sia-sia dan perkara yang haram. Oleh karena itu,
sebagian ulama mengibaratkan zakat fitrah seperti sujud sahwi dalam shalat.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz
menulis dalam kitabnya tersebut, “Ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh ayah
kalian Adam ‘alaihis salam,
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
“Ya Rabb kami, kami
telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan
memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi.” (QS. Al-A’raf: 23).
Ucapkanlah seperti yang
diucapkan Nuh ‘alaihis salam,
وَإِلَّا
تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sekiranya Engkau
tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku,
niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 47)
Ucapkanlah seperti yang
diucapkan Ibrahim ‘alaihis salam,
وَالَّذِي
أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
“Dan yang amat kuinginkan
akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 82)
Ucapkanlah seperti yang
diucapkan Musa ‘alaihis salam,
رَبِّ
إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي
“Ya Tuhanku, sesungguhnya
aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (QS. Al-
Qashash: 16)
Begitu pula ucapkanlah
seperti yang diucapkan Dzun Nun (Yunus) ‘alaihis salam,
لَّا
إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Bahwa tidak ada Tuhan
selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang
yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87)
Puasa kita butuh pada istighfar,
sedangkan amalan shalih sebagai penggenapnya. Bukankah puasa kita penuh cacat
dikarenakan pelanggaran yang kita lakukan saat puasa?
Setelah shalat,
beristighfarlah.
Tujuannya untuk menambal cacat dalam shalat. Ini dilakukan sebagaimana orang
yang berbuat dosa beristighfar. Inilah keadaan orang-orang yang bagus ibadahnya
(muhsin). Sedangan para pelaku maksiat, bagaimana keadaan keseharian
mereka? Sungguh merugi jika waktu untuk berbuat baik malah berbalik menjadi
maksiat. Lalu waktu berbuat taat, malah jadi waktu sia-sia.
Al Hasan Al Bashri berkata, “Perbanyaklah istighfar karena
kalian tidaklah tahu kapan waktu turunnya rahmat.”
Lukman pun pernah berkata pada anaknya, “Wahai anakku,
basahilah lisanmu dengan bacaan istighfar (permohonan ampun pada Allah) karena
Allah telah memilih beberapa waktu yang do’a orang yang meminta tidak tertolak
saat itu”.
Oleh karena itu pemimpin
seluruh manusia, imam seluruh orang-orang yang bertakwa, selalu beristighfâr di
dalam seluruh keadaannya. Berikut
ini contoh istigfar yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَاللَّهِ
إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ
سَبْعِينَ مَرَّةً
Demi
Allâh, sesungguhnya aku beristighfâr dan bertaubat kepada Allâh lebih dari 70
kali dalam sehari.” [HR. Bukhâri, no. 6307]
1. Istighfar Setelah Selesai
Menunaikan Shalat Malam
Allâh
Azza wa Jalla berfirman memberitakan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa :
الَّذِينَ
يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ﴿١٦﴾الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
(Yaitu)
orang-orang yang berdoa : “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka
ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (Yaitu)
orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya
(di jalan Allâh), dan yang memohon ampun di waktu sahur [sahur: waktu sebelum
fajar menyingsing mendekati shubuh. [Ali ‘Imrân/3: 16-17]
2. Istighfar
Setelah Menunaikan Shalat
Shalat
merupakan amalan yang paling besar setelah syahâdatain (dua syahadat). Dalam
pelaksanaan ibadah shalat harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, dan
kewajiban-kewajibannya. Lebih sempurna lagi jika dipenuhi hal-hal yang
disunahkan di dalam shalat. Namun siapakah yang yakin bahwa dirinya telah
menunaikan semua itu dalam shalatnya ? Oleh karena itu, Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan dengan membaca istighfâr tiga kali
setelah salam dari shalat wajibnya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
sebagai berikut :
عَنْ
ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا
انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ
السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ
الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Dari
Tsaubân Radhiyallahu anhu dia berkata: “Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam selesai melaksanakan shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
beristighfâr (meminta ampunan) tiga kali.
3. Istighfar
Setelah Selesai Menunaikan Ibadah Haji
Bukan
hanya di akhir shalat, ternyata istighfâr juga disyari’atkan di akhir
menunaikan ibadah haji. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
فَإِذَا
أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ
وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ﴿١٩٨﴾ثُمَّ
أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Maka
apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allâh di
Masy’aril haram (di Muzdalifah), dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allâh
sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu
benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari
tempat bertolaknya orang-orang banyak (yaitu dari ‘Arafah) dan mohonlah ampun
kepada Allâh; sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[al-Baqarah/2: 198-199]
4. Istighfar
Setelah Menunaikan Amanah Dakwah
Setelah
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan risalah kepada
manusia, berjihad membela agama Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar
jihad, dan melaksanakan perintah Allâh dengan sempurna, yang tidak ada
seorangpun menyamai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Allâh Subhanahu
wa Ta’ala memerintahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
beristighfâr, sebagaimana firman-Nya :
إِذَا
جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴿١﴾وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ
اللَّهِ أَفْوَاجًا﴿٢﴾فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ
تَوَّابًا
Apabila
telah datang pertolongan Allâh dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk
agama Allâh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu
dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
[an-Nashr/110:
1-3]
5. Istighfar
Setelah Selesai Menunaikan Majlis dan Smua Amalan
Semua
keterangan di atas menunjukkan keagungan istighfâr. Bahkan selain itu,
istighfâr ini dijadikan sebagai doa penutup majlis, juga sebagai doa di akhir
semua amalan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits berikut ini:
عَنْ
عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا
جَلَسَ مَجْلِسًا أَوْ صَلَّى تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ عَنْ
الْكَلِمَاتِ فَقَالَ إِنْ تَكَلَّمَ بِخَيْرٍ كَانَ طَابِعًا عَلَيْهِنَّ إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنْ تَكَلَّمَ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Dari
‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
apabila telah duduk di suatu majelis atau ketika telah selesai shalat maka
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan beberapa kalimat. Lalu ‘Aisyah
Radhiyallahu anhuma bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang kalimat-kalimat tersebut, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab; “Jika seseorang bicara baik maka itu sebagai stempel/tutup sampai
hari kiamat dan jika dia bicara yang tidak baik maka itu sebagai
kaffarat/penghapusnya. (Yaitu perkataan) :
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
(Ya
Allâh, Maha Suci Engkau dan segala pujian bagi-Mu. Aku mohon ampunan dan
bertaubat kepada-Mu).” [HR. Nasâ’i, no. 1327; dishahihkan oleh al-Albâni]
💡 hikmah:
·
Manusia menjadi mahluk yang terkadang sholeh dan Salah,
ketika berbuat salah sepantasnya dan seharusnya kita Berisitigfar sebagai wujud
peneysalan dan meminta ampun kepada Allah atas kehilafan.
·
Namun Istigfar juga seyogyanya kita lakukan sebagai
penutup amal shalih kita. Karena manusia selalu memiliki kekurangan dan
ketidaksempurnaan, dan ini sebagai wujud manusia memiliki kelemahan dalam
setiap perbuatan. Termasuk amal shalih kita, mungkin secara dzohir terlihat
indah, namun siapa tahu isi hati ketia berbuat itu, siapa tahu dibalik ibadah
itu ada selain Allah. Atau mungkin juga ibadah kita tidak sesuai dengan
ketentuan yang Rasul contohkan.
·
Karena itu para ulama menganjurkan istighfar setelah ibadah
(misalnya setelah shalat, puasa, ibadah Haji, Majelis Ilmu dsb).
oleh :
Yudi Patmadinata