• BERSAMA DALAM KEBERSAMAAN

    Pelaksanaan Pembinaan dalam rangka penyegaran dan peningkatan pelayanan kepada siswa demi terciptanya sekolah yang cerah dan mencerahkan, membahagiakan

  • BERSAMA SISWA

    Dalam rangka akhir kegiatan, ditunjukan untuk menikmati kebersamaan

  • BERKAH BERSAMA AL-QUR'AN

    Keberkahan ketika kita bisa membuat orang tua kita meneteskan air mata karena kesolehan putra-putrinya

  • BERBAKTI TIDAK HANYA PEDULI

    Belajar adalah aktivitas untuk menjadi diri yang dinanti dan selalu bermanfaat baik bagi diri dan masyarakat sekitar

  • WISUDA TAHFIDZ

    Kegiatan Wisuda Pecinta Al-Qur'an (Palaq) yang dilaksanakan oleh Hikmat SMA Muhammadiyah Wanaraja, oleh Bapak H Dadang Saepulloh, S.Ag (alm)

DUNIA DAN AKHIRAT

DUNIA DIBANDING AKHIRAT

Dari Al-Mustaurid bin Syaddad –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).

📃 Penjelasan:

Inilah gambaran hinanya dunia dibandingkan dengan akhirat. Air setetes dibandingkan dengan luasnya lautan. Dan ini bukan satu-satunya hadits yang menggambarkan hinanya dunia.

Maka, tidaklah mengherankan jika dua raka'at sebelum subuh lebih baik dari pada dunia sisiNya. Apalagi dibandingkan dengan shalat yang wajib!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مَنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

Dua rakaat (sebelum) Subuh lebih baik daripada dunia seisinya [HR. Muslim].

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Hadis ini menjelaskan tentang hina dan tidak adanya nilai dunia di sisi Allah. Seandainya ia memiliki nilai walau sekecil apapun di sisi Allah ﷻ niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air, apalagi diberikan kenikmatan dan kelezatan di dalamnya.

Dalam hadits lain, dijelaskan bahwa dunia ini lebih jelek daripada bangkai anak kambing yang cacat. Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ. فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: ))أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ (( فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قال:(( أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ )) قَالُوْا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: (( فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ )).

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian. [Shahih: HR. Muslim, no. 2957 ]

Maka, dunia bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai wasilah menunju akhirat.

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“

[HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani ].

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan cinta kepada akhirat dan zuhud dalam kehidupan dunia, serta celaan dan ancaman besar bagi orang yang terlalu berambisi mengejar harta benda duniawi.

Maka, orang yang mengejar dunia akan disiksa dengan kekurangan yang terus menerus. Maka, jadilah penuntut ilmu sebagai bekal akhirat yang, menjadikan kita takut kepada Allah ﷻ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

منهومان لا يشبعان طالب علم و طالب دنيا

“Ada dua orang rakus yang tidak pernah kenyang; penuntut ilmu dan pencari dunia”. (HR. Al-Bazzar, dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani sebagaimana dalam Shahihul Jami.)

Saking luasnya ilmu, seorang ulama Yahya Ibnu Abi Katsir Rahimahullah berkata, ilmu tidak bisa digapai 1000 tahun, maka ambilah yang diperlukan.

Dasar sifat manusia adalah tamak, dalam sebuah hadist disebutkan :

عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438).

Manusia banyak yang lalai karena kesibukannya saling berlomba meraih dunia. Ada yang rakus akan kedudukan atau kekuasaan. Ada juga yang saling menyombongkan diri dan berbangga dengan harta dan anaknya. Mereka barulah berhenti ketika sampai di liang lahat. Padahal semua nikmat kelak akan ditanya.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Takatsur,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Dalam Surat Ad-Dhuha Ayat 4:

وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).

Dalam Surat Al-A’la Ayat 17:

وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Dalam Surat Al-Qashash Ayat 77:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.


Share:

LOKA KARYA (BAS) BAKTI AKHIR SEKOLAH TAHUN 2026


Kegiatan Loka Karya Bakti Akhir Sekolah (BAS) Tahun 2026 dilaksanakan pada hari Senin, 27 April 2026, bertempat di Aula SMA Muhammadiyah Wanaraja. Kegiatan ini merupakan bagian penting dari rangkaian program akhir siswa sebagai bentuk pelaporan dan refleksi atas seluruh kegiatan BAS yang telah dilaksanakan.

Loka karya ini dihadiri oleh para guru penguji, yaitu H. Yudi Patmadinata, Wawan Setiawan, dan Cef Rofi Awaludin. Kehadiran para penguji memberikan nilai tambah dalam proses evaluasi, karena mereka secara langsung memberikan masukan, arahan, serta penilaian terhadap hasil kegiatan yang dipresentasikan oleh peserta didik.



Dalam pelaksanaannya, siswa memaparkan laporan pertanggungjawaban kegiatan BAS yang telah mereka jalankan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga hasil yang dicapai. Setiap kelompok atau individu diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, kendala yang dihadapi, serta solusi yang telah dilakukan selama kegiatan berlangsung.

Selain sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban peserta, loka karya ini juga menjadi sarana evaluasi bagi pihak sekolah. Melalui kegiatan ini, berbagai masukan dan rekomendasi dihimpun sebagai bahan perbaikan agar pelaksanaan BAS di masa yang akan datang dapat berjalan lebih optimal, terarah, dan tepat sasaran.



Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme dari seluruh peserta. Diharapkan melalui loka karya ini, siswa tidak hanya mampu mempertanggungjawabkan kegiatan yang telah dilakukan, tetapi juga memperoleh pengalaman berharga dalam menyampaikan gagasan, berpikir kritis, serta meningkatkan kemampuan komunikasi di hadapan publik.

Share:

PEMBINAAN MAJELIS DIKDASMEN DAN PNF PWM JAWA BARAT

Kegiatan Asesmen Kepala Sekolah serta Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 2026 di SMA Muhammadiyah Wanaraja. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat sebagai bentuk evaluasi dan penguatan mutu pendidikan di lingkungan sekolah Muhammadiyah.

Pelaksanaan kegiatan bertempat di Ruang Guru dan Ruang Tata Usaha SMA Muhammadiyah Wanaraja, yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan. Turut hadir pula perwakilan dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Garut, PCM Wanaraja, serta Komite Sekolah yang memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini.

Kegiatan diawali dengan asesmen kepala sekolah yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja, kepemimpinan, serta manajerial dalam mengelola satuan pendidikan. Dalam proses ini, tim asesor melakukan peninjauan terhadap berbagai aspek, seperti administrasi sekolah, program kerja, serta implementasi kebijakan pendidikan yang telah berjalan.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan guru dan tenaga kependidikan yang berfokus pada peningkatan kompetensi profesional, pedagogik, serta penguatan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan arahan, motivasi, serta strategi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelayanan pendidikan di sekolah. Pembinaan disampaikan oleh Bapak H Nur Komarudin. sebagai ketua mejelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Barat.






Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme dari seluruh peserta. Melalui asesmen dan pembinaan ini, diharapkan SMA Muhammadiyah Wanaraja dapat terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat tata kelola sekolah, serta menciptakan lingkungan belajar yang unggul, berkarakter, dan berkemajuan sesuai dengan nilai-nilai Muhammadiyah.

Share:

OUTING CLASS X SMAM WANARAJA


Kegiatan outing class siswa kelas X SMA Muhammadiyah Wanaraja dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 2026, sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual di luar kelas yang bertujuan menambah wawasan akademik, budaya, serta literasi siswa. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusiasme, melibatkan seluruh siswa kelas X beserta guru pendamping.

Tujuan pertama adalah Universitas Garut. Di kampus ini, para siswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal lingkungan perguruan tinggi secara langsung. Mereka diajak berkeliling area kampus, mengenal berbagai fakultas, serta mendapatkan motivasi dari pihak kampus mengenai pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat belajar dan cita-cita siswa sejak dini.

Perjalanan dilanjutkan ke Cagar Budaya Cangkuang, salah satu situs bersejarah yang terkenal di Kabupaten Garut. Di lokasi ini, siswa belajar tentang nilai-nilai sejarah dan budaya lokal, termasuk keberadaan Candi Cangkuang dan Kampung Pulo yang sarat akan kearifan lokal. Dengan didampingi pemandu, siswa memperoleh penjelasan mengenai sejarah, tradisi, serta pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.

Sebagai penutup kegiatan, rombongan mengunjungi Gramedia Citimall Garut. Di sini, siswa diberi kesempatan untuk meningkatkan minat baca dan literasi dengan melihat berbagai koleksi buku edukatif. Selain itu, siswa juga dapat membeli buku atau perlengkapan belajar yang dibutuhkan.

Secara keseluruhan, kegiatan outing class ini berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh manfaat. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga mampu mengembangkan wawasan akademik, sosial, dan budaya secara seimbang. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari pembelajaran yang inspiratif dan bermakna.

Share:

PELEPASAN BAKTI AKHIR SEKOLAH 2026

Wanaraja, 6 April 2026 — Suasana khidmat menyelimuti lapangan SMA Muhammadiyah Wanaraja pada Senin pagi ini. Seluruh sivitas akademika berkumpul bukan sekadar untuk melaksanakan upacara bendera rutin, melainkan untuk melepas para duta sekolah dalam program unggulan: Bakti Akhir Sekolah (BAS) Tahun 2026.

​Amanat dan Penegasan Misi

​Upacara pelepasan ini dipimpin langsung oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wanaraja. Dalam amanatnya, beliau menekankan bahwa BAS bukan sekadar kegiatan seremonial atau syarat administratif belaka. Beliau menegaskan bahwa BAS adalah sebuah Misi Besar yang mencakup lima dime


nsi utama:

​Misi Pribadi: Sebagai ajang pembentukan karakter dan kemandirian siswa. Mengaktualisasikan jati diri ilmu yang didapat di bangku sekolah berdampak di masyarakat.

​Misi Keluarga: Menjaga kehormatan dan membawa nama baik orang tua. membuktikan kemandirian kepada orang tua, bahwa anak nya bisa mandiri menjadi di pribadi yang berguna.

​Misi Sekolah: Menjadi representasi kualitas pendidikan di SMA Muhammadiyah Wanaraja, peserta BAS mengemban amanah dari sekolah untuk menjadi duta penyebar kebaikan dan menunjukkan eksistensi sekolah.

​Misi Persyarikatan: Menyiapkan kader Muhammadiyah yang bermanfaat bagi umat.

​Misi Dakwah: Menebar maslahat di tengah masyarakat luas.

​BAS: Wadah Aktualisasi Diri

​Program BAS merupakan instrumen strategis sekaligus syarat kelulusan bagi siswa kelas XII. Kegiatan ini dirancang sebagai "lahan aktualisasi" bagi para siswa untuk mempraktikkan seluruh ilmu, nilai, dan keterampilan yang selama ini mungkin belum sepenuhnya tersalurkan di dalam ruang kelas. Melalui BAS, siswa ditantang untuk terjun langsung ke masyarakat, mengabdi, dan memberikan kontribusi nyata.

​Prosesi Pelepasan

​Acara diakhiri dengan prosesi pelepasan secara simbolis oleh Bapak kepala Sekolah Bpk Irwan Firdaus, S.Pd.I, M.Pd didampingi oleh jajaran guru dan staf sekolah. Kehadiran seluruh siswa kelas X dan XI dalam upacara ini juga bertujuan untuk memberikan motivasi bagi adik tingkat tentang pentingnya dedikasi dalam masa akhir studi.

​"BAS adalah jembatan yang menghubungkan teori di sekolah dengan realitas di masyarakat. Jadikan ini sebagai bukti bahwa siswa SMA Muhammadiyah Wanaraja siap menjadi solusi bagi bangsa." pcmwanaraja.

Share:

KEGIATAN PENUTUP PESANTREN EKOLOGI 2026 SMA MUHAMMADIYAH WANARAJA

Penutupan kegiatan Pesantren Ekologi Ramadhan 1447 H di SMA Muhammadiyah Wanaraja dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 Maret 2026, bertempat di Komplek SMA Muhammadiyah Wanaraja. Kegiatan ini merupakan rangkaian akhir dari program pembinaan karakter religius, kepedulian sosial, dan kesadaran lingkungan yang diikuti oleh seluruh warga sekolah selama bulan Ramadhan.

Acara penutupan berlangsung dengan meriah dan penuh kebersamaan, dihadiri oleh Kepala SMA Muhammadiyah Wanaraja, Bapak Irwan Firdaus, S.Pd.I., M.Pd., beserta seluruh dewan guru dan siswa-siswi.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Bazar Rantang Kanyaah, yang menghadirkan berbagai makanan dan hidangan yang disiapkan oleh para siswa sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan dalam berbagi di bulan suci Ramadhan. Selanjutnya dilaksanakan Bazar Ekstrakurikuler, yang menampilkan berbagai produk kreatif hasil karya siswa dari berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Selain itu, turut diselenggarakan Bazar Thrifting Guru, yaitu kegiatan penjualan pakaian layak pakai yang diinisiasi oleh para guru sebagai bentuk dukungan terhadap gaya hidup hemat, ramah lingkungan, serta kegiatan sosial di lingkungan sekolah.

Kemeriahan acara juga diisi dengan Sendung Ramadhan, yaitu penampilan seni dan kreativitas siswa yang menampilkan berbagai pertunjukan bernuansa islami dan edukatif. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka sekaligus mempererat ukhuwah antarwarga sekolah.


Memasuki waktu berbuka puasa, seluruh peserta kegiatan melaksanakan Iftar (buka puasa) bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Sholat Tarawih berjamaah, yang semakin menambah kekhusyukan dan nilai spiritual dalam rangkaian kegiatan Pesantren Ramadhan.

Sebagai bagian dari agenda akademik, pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan pembagian Raport Ulangan Tengah Semester (UTS) Genap kepada para siswa sebagai bentuk evaluasi hasil belajar selama setengah semester berjalan.


Melalui kegiatan penutupan Pesantren Ekologi Ramadhan ini, diharapkan nilai-nilai keagamaan, kepedulian sosial, kreativitas, serta kesadaran terhadap lingkungan dapat terus tertanam dalam diri para siswa. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antara siswa, guru, dan seluruh warga sekolah di lingkungan SMA Muhammadiyah Wanaraja.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan semangat Ramadhan tetap terjaga dan menjadi inspirasi bagi seluruh peserta didik untuk terus meningkatkan akhlak, prestasi, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.













Share:

ISTIGFAR SEBAGAI PENUTUP KETAATAN

ISTIGFAR PENUTUP KETAATAN
KAJIAN ITIKAF RAMADHAN 1447 H
MASJID AL-KAUTSAR PAPANDAK

Istigfar adalah adalah tindakan meminta maaf atau memohon keampunan kepada Allah yang dilakukan, dalam benak kita terkadang sudah tertanam pemahaman bahwa istigfar hanya dilakukan ketika kita telah berbuat salah atau dosa. Meminta ampun itu apabila telah berbuat kesalahan dan itu adalah sepatutnya untuk meminta maaf, karena kesalahan dan itu adalah wajar.

Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma menyatakan,

وإنه لا كبيرة مع استغفار ولا صغيرة مع إصرار

“Sesungguhnya tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus-menerus.”

Namun selain itu ternyata, istigfar oleh Nabi diajarkan apabila kita telah berbuat baik atau berbuat ketaatan, karena ketaatan yang kita lakukan belum tentu sesuai dengan ketentuan yang Allah perintahkan dan Rasul contohkan.

قَالَ شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ:

فَإِنَّ الْعَبْدَ لَوِ اجْتَهَدَ مَهْمَا اجْتَهَدَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُومَ لِلَّهِ بِالْحَقِّ الَّذِي أَوْجَبَهُ عَلَيْهِ، فَمَا يَسَعُهُ إِلَّا الِاسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ عَقِيبَ كُلِّ طَاعَةٍ.

مَجْمُوعُ الْفَتَاوَى (١٠/٨٥)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله:

“Sesungguhnya seorang hamba, walaupun ia telah bersungguh-sungguh sekeras apa pun, tidak akan mampu menunaikan hak Allah secara sempurna sebagaimana yang Allah wajibkan kepadanya. Karena itu, tidak ada yang pantas baginya selain beristighfar dan bertaubat setelah setiap ketaatan.”

Dalam hal ini istighfar adalah penutup setiap amalan shalih. Shalat lima waktu, haji, shalat malam, dan pertemuan dalam majelis biasa ditutup dengan amalan dzikir istighfar ini. Jika istighfar berfungsi sebagai dzikir, maka jadi penambah pahala. Sedangkan jika ada sesuatu yang sia-sia dalam ibadah, maka fungsi istighfar sebagai kafaroh (penambal).

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah membuat tulisan yang ingin dikirimkan ke berbagai ke negeri. Isi surat tersebut adalah memerintahkan mereka untuk menutup bulan Ramadhan dengan istighfar dan sedekah yaitu zakat fitrah. Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia dan dari kata-kata haram. Sedangkan istighfar berfungsi sebagai penambal atas kekurangan yang dilakukan selama berpuasa yaitu ketika melakukan hal-hal yang sia-sia dan perkara yang haram. Oleh karena itu, sebagian ulama mengibaratkan zakat fitrah seperti sujud sahwi dalam shalat.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis dalam kitabnya tersebut, “Ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh ayah kalian Adam ‘alaihis salam,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Rabb  kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23).

 

Ucapkanlah seperti yang diucapkan Nuh ‘alaihis salam,

وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 47)

 

Ucapkanlah seperti yang diucapkan Ibrahim ‘alaihis salam,

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 82)

 

Ucapkanlah seperti yang diucapkan Musa ‘alaihis salam,

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (QS. Al- Qashash: 16)

 

Begitu pula ucapkanlah seperti yang diucapkan Dzun Nun (Yunus) ‘alaihis salam,

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87)

 

Puasa kita butuh pada istighfar, sedangkan amalan shalih sebagai penggenapnya. Bukankah puasa kita penuh cacat dikarenakan pelanggaran yang kita lakukan saat puasa?

 

Setelah shalat, beristighfarlah. Tujuannya untuk menambal cacat dalam shalat. Ini dilakukan sebagaimana orang yang berbuat dosa beristighfar. Inilah keadaan orang-orang yang bagus ibadahnya (muhsin). Sedangan para pelaku maksiat, bagaimana keadaan keseharian mereka? Sungguh merugi jika waktu untuk berbuat baik malah berbalik menjadi maksiat. Lalu waktu berbuat taat, malah jadi waktu sia-sia.

 

Al Hasan Al Bashri berkata, “Perbanyaklah istighfar karena kalian tidaklah tahu kapan waktu turunnya rahmat.”

Lukman pun pernah berkata pada anaknya, “Wahai anakku, basahilah lisanmu dengan bacaan istighfar (permohonan ampun pada Allah) karena Allah telah memilih beberapa waktu yang do’a orang yang meminta tidak tertolak saat itu”.

Oleh karena itu pemimpin seluruh manusia, imam seluruh orang-orang yang bertakwa, selalu beristighfâr di dalam seluruh keadaannya. Berikut ini contoh istigfar yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,

 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allâh, sesungguhnya aku beristighfâr dan bertaubat kepada Allâh lebih dari 70 kali dalam sehari.” [HR. Bukhâri, no. 6307]

1.       Istighfar Setelah Selesai Menunaikan Shalat Malam

Allâh Azza wa Jalla berfirman memberitakan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa :

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴿١٦﴾الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa : “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allâh), dan yang memohon ampun di waktu sahur [sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati shubuh. [Ali ‘Imrân/3: 16-17]

2.    Istighfar Setelah Menunaikan Shalat

Shalat merupakan amalan yang paling besar setelah syahâdatain (dua syahadat). Dalam pelaksanaan ibadah shalat harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, dan kewajiban-kewajibannya. Lebih sempurna lagi jika dipenuhi hal-hal yang disunahkan di dalam shalat. Namun siapakah yang yakin bahwa dirinya telah menunaikan semua itu dalam shalatnya ? Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan dengan membaca istighfâr tiga kali setelah salam dari shalat wajibnya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sebagai berikut :

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Dari Tsaubân Radhiyallahu anhu dia berkata: “Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai melaksanakan shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfâr (meminta ampunan) tiga kali.

3.    Istighfar Setelah Selesai Menunaikan Ibadah Haji

Bukan hanya di akhir shalat, ternyata istighfâr juga disyari’atkan di akhir menunaikan ibadah haji. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ﴿١٩٨﴾ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allâh di Masy’aril haram (di Muzdalifah), dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allâh sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (yaitu dari ‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allâh; sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2: 198-199]

4.    Istighfar Setelah Menunaikan Amanah Dakwah

Setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan risalah kepada manusia, berjihad membela agama Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar jihad, dan melaksanakan perintah Allâh dengan sempurna, yang tidak ada seorangpun menyamai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beristighfâr, sebagaimana firman-Nya :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴿١﴾وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا﴿٢﴾فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allâh dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk agama Allâh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

[an-Nashr/110: 1-3]

 

5.    Istighfar Setelah Selesai Menunaikan Majlis dan Smua Amalan

Semua keterangan di atas menunjukkan keagungan istighfâr. Bahkan selain itu, istighfâr ini dijadikan sebagai doa penutup majlis, juga sebagai doa di akhir semua amalan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ مَجْلِسًا أَوْ صَلَّى تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ عَنْ الْكَلِمَاتِ فَقَالَ إِنْ تَكَلَّمَ بِخَيْرٍ كَانَ طَابِعًا عَلَيْهِنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنْ تَكَلَّمَ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah duduk di suatu majelis atau ketika telah selesai shalat maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan beberapa kalimat. Lalu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kalimat-kalimat tersebut, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab; “Jika seseorang bicara baik maka itu sebagai stempel/tutup sampai hari kiamat dan jika dia bicara yang tidak baik maka itu sebagai kaffarat/penghapusnya. (Yaitu perkataan) :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

(Ya Allâh, Maha Suci Engkau dan segala pujian bagi-Mu. Aku mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu).” [HR. Nasâ’i, no. 1327; dishahihkan oleh al-Albâni]

💡 hikmah:

·         Manusia menjadi mahluk yang terkadang sholeh dan Salah, ketika berbuat salah sepantasnya dan seharusnya kita Berisitigfar sebagai wujud peneysalan dan meminta ampun kepada Allah atas kehilafan.

·         Namun Istigfar juga seyogyanya kita lakukan sebagai penutup amal shalih kita. Karena manusia selalu memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, dan ini sebagai wujud manusia memiliki kelemahan dalam setiap perbuatan. Termasuk amal shalih kita, mungkin secara dzohir terlihat indah, namun siapa tahu isi hati ketia berbuat itu, siapa tahu dibalik ibadah itu ada selain Allah. Atau mungkin juga ibadah kita tidak sesuai dengan ketentuan yang Rasul contohkan.

·         Karena itu para ulama menganjurkan istighfar setelah ibadah (misalnya setelah shalat, puasa, ibadah Haji, Majelis Ilmu dsb).

oleh : Yudi Patmadinata

 


Share:

PENUTUPAN PESANTREN EKOLOGI

PENUTUPAN PESANTREN EKOLOGI

ASESMEN SUMATIF AKHIR JENJANG

ASESMEN SUMATIF AKHIR JENJANG
Selamat datang di situs kami, The Progressive School.

Blogger templates

SEKOLAH BERBUDAYA & BERKEMAJUAN

SEKOLAH BERBUDAYA & BERKEMAJUAN

Popular Posts